Rabu, 19 Januari 2011

Message from Jannah

Bibir mungilnya bercerita tentang lelucon yang diutarakan kawan-kawan di sekolahnya. Aku mencoba untuk tertawa. Tapi hambar. Adik Ila bertanya tentang ketidak hadiran ayah dan ibu di acara penting sekolahnya tadi pagi. Aku mencoba mengalihkan pertanyaannya dengan cerita lain. Kaku bibirku untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya. Biarlah ia melihat sendiri apa yang terjadi. Ku pandangi wajah polosnya dengan hati ciut. Anak yang terlalu muda untuk menerima pahitnya kehidupan dengan menyandang predikat yatim piatu.

Sesampainya di rumah sakit, ia menjerit melihat keadaan ayah dan ibu. Ia berteriak membangunkan ayah dan ibu untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadany. Hatiku tersayat. Benteng ketahanan yang aku bina sejak tadi, kini hancur berkeping-keping. Aku memeluknya. Dia mengalihkan perhatiannya padaku. Dia menarik-narik tanganku. Memaksa aku untuk membangunkan ayah dan ibu. Aku memeluknya seerat mungkin. Dia memukul-mukulku sambil menangis. Masih ku ingat kata-kata terakhirnya sebelum ia terlena dalam dekapanku. “ ayah dan ibu jahat ! Ayah dan ibu tidak sayang sama Ila dan kak Ili. Kenapa ayah dan ibu tidak mau bangun ? Bangunlah…! Jangan tidur lagi. Ila tidak mau kalau hadiah ulang tahunya seperti ini. Kak Ili…bangunkan ayah dan ibu kak…!”kalimat itu diulang beberapa kali. Air mataku deras mengalir.

Pesta ulang tahun kini berubah menjadi acara pemakaman. Itulah terakhir aku melihat adik Ila memakai baju sutera putih dan kalung mutiara pemberian ayah dan ibu. Itulah hadiah terakhir yang tidak sempat mendapat pujian dari siapapun. Setelah hari itu aku tidak pernah melihat adik Ila memakainya lagi. Mengenang itu semua, membuatku menangis tersedu sedan. Ya Allah, bahagiakanlah adikku itu. Tiba-tiba bahuku ditepuk dari belakang. Aku menoleh. Adik Ila tersenyum padaku. Oh, baru kali ini aku melihat lagi senyumnya yang menyejukkan hati. Ia mengajakku untuk pergi ke kuburan ayah dan ibu. Kukatakan padanya bahwa aku mau mandi dulu, sebab ku rasa tubuhku lengket sekali. Dia tertawa. Aku bahagia sekali. Dengan berlari kecil, ia melambaikan tangan sambil berteriak, “ aku berangkat duluan ya kak…!”akupun membalas teriakkannya,“iya, hati-hati ya…!”Kuperhatikan dirinya, oh, ia mengenakan baju sutera putih dan kalung mutiara pemberian ayah dan ibu. Aku merasa sedikit aneh. Tapi cepat-cepat rasa itu kutangkis.

Setelah agak lama, aku telah siap. Terkejut bukan main saat kumelihat kalender. Hari ini ternyata hari ulang tahun adik Ila. Pantas saja ia mengenakan hadiah ulang tahun pemberian ayah dan ibu. Berarti hari ini adalah tepat tahun kedua ayah dan ibu meninggalkan kami berdua. Aku menyalahkan diriku sendiri karena kealpaan terhadap tanggal itu. Aku kembali ke kamar untuk mengambil hadiah yang memang telah kusiapkan sebagai hadiah ulang tahun adik Ila. Harganya memang tidak seberapa. Tapi kurasa itu adalah hadiah teristimewa buat adil Ila maupun buatku. Potret kami sekeluarga dengan bingkai kaca yang indah. Rencananya potret itu akan kuberikan di atas kuburan kepada adikku agar ayah dan ibu menjadi saksi bahwa kami terus mencintainya. Aku tersenyum.

Aku mengenakan baju sutera merah dan cincin pemberian ayah dan ibu. Aku pun tak tahu mengapa tiba-tiba aku sangat barhasrat mengenakan baju itu. Baju itu motifnya sama dengan yang dikenakan adik Ila, hanya saja warnanya yang berbeda. Entah kenapa aku ingin sekali selalu terlihat sama pada liburan kali ini, apalagi mengingat bahwa esok aku harus ke kampus meninggalkan adikku tersayang. Aku siap berangkat ke perkuburan dengan berjalan kaki. Namun di pertengahan, perjalananku terganggu dengan ramai orang seperti mengerumuni sesuatu. Entah mengapa tiba-tiba jantungku berdegup kencang sekali. Aku mencium aroma bunga disekitar itu. Kuturunkan pandanganku ke tanah aspal, kulihat bunga-bunga segar berserakan. Ada genangan air yang telah bercampur darah. Kulihat juga ada manik-manik mutiara berserakan. Ya Allah, aku kenal sekali dengan pemilik manik-manik itu. Bergegas kusibak kerumunan orang. Dan jelas dalam pandanganku sebujur mayat gadis kecil dengan mengenakan baju sutera putih seraya memeluk buku Yasin. Bingkai potretku terlepas dari tanganku. Aku menjerit NAAABIILAAA…!!!
Bingkai potret pecah seribu. Tubuhku bergetar. Aku menangis histeris. Kupangku kepalanya. Kugoyang-goyangkan tubuhnya, namun ia tetap tak bergerak. Dalam tangisan aku mengajaknya bicara : “adiik… bangun ! Jangan tinggalkan kak Ili seorang diri di dunia ini”. Semua orang yang menatapku menitiskan air mata. Tiba-tiba bahuku ada yang menepuk lembut. Aku menoleh. Ternyata Yanti. Ia memelukku seraya bernasehat, “Ili, bangunlah ! Terimalah kenyataan bahwa adik Ili sudah pergi selamanya” “ Tidak Yanti, Ila pernah janji kepadaku bahwa ia tidak akan meninggalkanku. Ila… bangun dik ! Jangan takuti kakak seperti ini…! Tangisku makin jadi. Semakin kurekatkan pelukanku. Yanti berusaha melerai pelukanku. Namun tak berhasil. Aku berteriak kencang sekali memanggil namanya, namun adik Ila tetap tak bergeming. Setelah teriakan itu aku tak merasakan apa-apa lagi. Kata Yanti aku pingsan.
 
Selepas itu aku mengemas barang-barang milik adik Ila yang sudah dua tahun terserakan di rumah itu. Aku menangis di tirai jendela dalam kamarnya. Tak kusangka kepulanganku kesini untuk menjadi saksi kematian seluruh anggota keluargaku. Tragedi 26 Agustus itu benar-benar terulang seakan menagih korban baru. Aku menangis lagi. Penyesalan yang tak terhingga bila kuingat bahwa hari ini aku belum sempat mengucapkan selamat hari ulang tahun kepada adik Ila tersayang. Wajah adik Ila tadi terlihat bersih, suci, tulus dan wajahnya ceria, seolah-olah baru terlepas dari penderitaan. Lagi-lagi aku menangis untuk kesekian kalinya. Tiba-tiba mataku tertuju pada secarik kertas di atas mejanya. Rupanya sepucuk surat yang dialamatkan kepadaku. Aku mengambilnya.

Aku buka dengan perasaan berdebar, karena inilah pertama kalinya adik Ila berkirim surat kepadaku meski tidak lewat pos.


——————————————————— ******************************************
Untukmu kak Ili

Assalamu'alaikum kakak… Ila sangat merasa gembira hari ini. Hari ini adalah hari jadi Ila. Akan sangat bermakna jika hari ini kakak mau mengucapkan selamat ulang tahun kepada Ila. Meski ingin sekali Ila mendengar kalimat itu dari kakak, namun Ila sadar akan kesibukan kakak. Padahal Ila telah menunggunya sejak pagi tadi. Tapi tak mengapalah, semoga nanti malam kakak sempat mengatakannya pada Ila.

Kak,, tahu nggak, semalam Ila mimpi bertemu dengan ayah dan ibu. Ila senang sekali karena selama ini Ila tak pernah memimpikan mereka. Wajah mereka tenang dan bersinar. Ayah dan ibu mengajak Ila jalan-jalan di tempat yang indaaah sekali. Dari tempat itu Ila melihat kak Ili jauuuh sekali. Ila berteriak memanggil-manggil kak Ili, tapi kak Ili tidak mendengarnya, aku sedih. Lalu ayah dan ibu bilang bahwa kak Ili akan bersama kita suatu saat nanti.

Eh, kak Ili, jangan bilang-bilang yah. Paman orangnya jahat banget deh. Setiap hari aku dipukul dan di caci maki. Apalagi kalau tidak ada bibi. Gigi Ila sampai patah dipukul paman. Sebetulnya Ila kepingin bercerita tentang hal itu sama bibi, tapi takut nanti paman dan bibi bertengkar. Ila juga kepingin sekali cerita sama kak Ili, tapi takut membuat hati kak Ili jadi gelisah dan mengganggu kuliah kakak. Ila ingin melihat kakak memakai topi dan baju hijau dengan membawa ijazah bertanda kak Ili telah lulus kuliah seperti harapan ayah dan ibu. Ila kepingin sekali ikut kakak ke kota, karena di sini Ila sudah tidak betah. Badan Ila pada sakit dan sering tak dikasih makan. Ila juga sering dibilang anak yatim piatu yang tidak tahu terima kasih. Baiklah, hari sudah semakin siang. Ila ingin memakai baju sutera putih dan kalung mutiara pemberian ayah dan ibu. Lagian sudah lama Ila tak memakai itu kan ? Ila ingin pergi. Ila ingin memberitahu ayah dan ibu tentang mimpi Ila semalam. Nanti kita bertemu di sana ya kak ! Sebelum Ila mengundurkan diri, Ila ingin beritahu kakak bahwa Ila sayaaaaaang banget sama kak Ili. Selamat tinggal kak Ili. I Luv u……!

Wasallam, Ila adikmu yang malang.

****************************************** ———————————————————

Air mataku menitik. Kuusap potretnya. Tak kusangka dalam usianya yang masih muda ia sudah menanggung penderitaan yang sedemikian berat. Sayang… harapannya untuk melihatku menggenggam segulung ijazah tidak kesampaian. Aku memeluk gelas kaca yang berisi mutiara putih itu seerat mungkin. Semua barang milik adik Ila kusimpan rapi di rumah itu. Potret retak seribu kugantung dirumah kami.

Aku akan kembali ke rumah ini setelah usia 25 tahun dimana aku telah menyelesaikan kuliah. Hatiku teriris saat menyadari bahwa tidak akan ada lagi yang akan mengurus kuburan ayah, ibu serta adik Ila. Pasti akan ditumbuhi rumput dan ilalang.

Tapi aku harus tegar. Aku tak boleh mundur apalagi surut ke belakang dan hanyut dalam kesedihan. Aku harus terus maju mengejar asa dan cita yang didambakan seluruh keluargaku. Aku yakin, ayah, ibu, dan adik Ila tak ingin melihatku terus berduka. Aku sangat yakin meski mereka telah berada di alam lain, mereka tetap mendo'akan aku untuk terus melangkah, menjalani alur kehidupan yang tak ubahnya bak sandiwara ini.

Keesokan harinya aku harus pergi ke kota untuk meneruskan perjuanganku kuliah demi menyongsong harapan ayah, ibu, dan adik Ila. Kusempatkan untuk menengok ke tanah perkuburan. Di sana sejenak aku tertidur. Lalu aku bermimpi. Ayah, ibu dan adik Ila menghampiriku dengan wajah bersih nan bersinar. Adik Ila memelukku, sementara ayah menggenggam erat pundakku, dan ibu menggenggam erat tanganku. Kemudian ayah bernasehat, “teruskan perjuanganmu nak, carilah ridha Allah dari ilmu yang telah kau dapatkan. Buatlah kami bangga kepadamu.

Aku terbangun dan aku harus meninggalkan ini semua.

Selamat tinggal ayah !

Selamat tinggal ibu !

Selamat tinggal adik Ila tersayang !

Kita pasti akan berkumpul suatu waktu nanti, Berkumpul dalam kebahagiaan. Amin ya Allah ya Karim

…“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal. ( Al Anfal : 2 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar